Selasa, 14 April 2015

Penilaian Kinerja yang membingungkan

  1. Menilai kinerja guru menjadi polemik tersendiri khususnya dikalangan guru madrasah, kenapa tidak, mulai dari menyamakan persepsi terkait blangko skp guru dengan pimpinan dalam hal ini kepala madrasah, lalu isi skp sampai pada penilain skp. Terakhir baru dp3 guru. Yang sangat sulit adalah masalah isi yang akan kita target selama setahun, itu kan hanya guru yang bersangkutan yang lebih paham, mengenai apa saja yang harus dicapai pada akhir tahun, tentunya dengan menekankan pada prioritas mana yang mendesak. Misalnya mau usul pangkat tentu yang harus ditarget adalah apa yang menjadi prioritas dalam penyusunan usulan pangkatnya. Katakanlah untuk usulan ke 4b, maka kita membutuhkan karya tulis . Ini harus kita cantumkan dalam skp dulu, baru kemudian boleh dimasukkan dalam daftar usulan pangkat. Jika tidak ditulis dalam skp bagaimana kita buat penilaiannya. Ini yang barangkali masih sulit untuk dipahami oleh guru, sehingga berlomba-lomba membuat karya tulis seadanya, sehingga nilaipun dapat seadanya juga. Dalam catatan kecil ini saya menyarankan kepada teman- teman yang ingin usul pangkat terutama yang membutuhkan karya tulis, cobalah untuk dibuat dulu sasaran kinerja yang benar, tentunya disini penegasannya adalah adanya penyamaan persepsi dengan teman- teman guru dan kepala madrasah, sehingga apa yang dibutuhkan guru perlu juga disetujui oleh pimpinan, baik menyangkut sasaran maupun penilaian, jika tidak, maka guru akan selalu jalan ditempat sehingga tidak ada bahan yang harus dinilai dan akhirnya wassalam.